Rabu, 10 Januari 2018

Welcome 2018


Hari ke sepuluh ditahun 2018 sudah ku lewati tapi belum ada satu kisahpun aku ceritakan.

Akhir tahun 2017 aku habiskan bermain di lampung selatan tepatnya di Pulau Pahawang. Tidak, aku tak berencana merayakan pergantian tahun tapi aku memang senang bertualang. Berkunjung ke tempat yang belum perna ku jajahi adalah keinginanku. Keinginan-keinginan yang selalu aku jaga disetiap tahun.

Suka duka perjalanan ketika itu menjadi akhir di 2017 serta mengawali bagaimana suka duka kelak di 2018.

Perjalanan lampung teramat spesial. Perjalanan yang tidak direncanakan. Ketika itu aku ditemani sri sahabatku dan adikku dede. Mereka adalah orang-orang yang sering sekali menemani perjalanan di 2017.

Perjalanan yang penuh pembelajaran. Aku belajar untuk berani, mencoba keluar dari zona nyaman. Berfikir baik saat jalan. Dan benar ditengah perjalanan kami selalu dipertemukan dengan orang-orang tulus serta baik.

Sabtu, 04 November 2017

Pendakian Semeru


Tulisan ini akan menceritakan perjalanan semeru kami. Kenapa kami karen kita ramean lagi..hehe

Sebetulnya bingung mau ceritain sisi sebelah mana karena perjalanan ini ga ada yang spesial jadi datar gitu dan dingin kaya sikap kamu #eh

Tapi berkat akunya yang lagi semangat cerita ditambah gak bisa cerita sama partner gosip sebut saja dia sri jadilah blog ini pelampiasannya..hahaha

Well, sebelum keberangkatan seperti biasa drama gak perna lepas dari kehidupan kami. Mulai dari ribetnya pesan tiket kereta, riwehnya daftar online untuk pendakian hingga aku yang ga dapat izin hingga hari keberangkatan.
Memesan tiket kereta. Awalnya kita mau berangkat berlima saja yaitu hanjar, om yo, arif, sri dan aku. Setelah beberapa hari kang asep dan eca mau ikut juga akibat gak terima kalo cuman denger cerita saja. Beberapa hari kemudian lagi popi pengen ikut juga bareng temennya upay. Karena tiket diawal sudah habis akhirnya mereka yang ikut belakangan ngambil tiket sehari setelah kita. Dan setelah beberapa hari om yo ga dapat izin cuti akhirnya dia tuker keberangkatan dengan popi terjadilah refund yang penuh perjuangan hingga akhirnya om yo kang asep dan eca berangkat bareng dihari kedua. Just info kalau mau tuker tiket langsung ke tempat offline nya saja bawa identitas dan surat kuasa bermaterai dari yang punya tiket terus nanti minta petugasnya deh kalau kursi nya ditukar ama temannya. Mudah sebenarnya asal mau ngurusin.

Perjuangan untuk tiket berangkat sudah selesai. Drama berikutnya bernama daftar online. Ya daftar online itu harus mengisi semua personil dan detail. Jadi yang ngisi itu sri. Sri isi semua identitasnya setelah selesai lanjutlah ke step selanjutnya, dikarenakan ada yang kurang dia balik ke home sebelumnya dan jeng jeng identitas yang sudah susah payah dia ketik hilang akibat kelamaan nunggu data yang kurang 😅😅 buat isi ini form ampe dua hari ditambah drama bayar pendaftaran. Kita semua gak ada yang pake mbangking, sri yang baca info nya bilang transfernya harus via BNI. Seharianlah dia cari bank BNI yang ternyata letaknya itu pas deket kosn dia (*pusing pala deh) sungguh kelakuan yang ckck. Dan setelah baca ulang ternyata boleh transfer dari bank manapun (*ya salam) sri again ckck 😪

Drama ketiga bernama izin orang tua dan endingnya diizinin berangkat. Drama ini gak usah diceritain deh.

Pendakian pun dimulai. Meeting poinya itu di Basecamp Ranu pane. Setelah melakukan pendaftaran ulang kami di briefing oleh relawan setempat terkait pendakian, jalur dan cuaca. Kegiatan ini cukup baik dan menurut pribadi harus diikuti digunung manapun. Melihat saat ini pendakian itu sedang nghits-nghits nya, briefing terhadap pendaki itu bisa jadi serangkaian kegiatan dalam simaksi sebagai bekal dalam pendakian.

Setelah briefing kami berkumpul untuk berdoa. Yes, aku harus berdoa lebih khusyu. Entahlah mungkin karena masih tahap adaptasi dengan semeru atau masih was-was dengan orang dirumah  apa ini mountening snickness?? Gak tau lah yang jelas hati was-wa..hiks Tapii, aku berusaha tenang. Berusaha buat gak mikir negatif, ngobrollah sana-sini dan pas banget pas ngobrol sama popi. Dia dapat pesan dari temannya "nikmatilah lelah, jangan berfikir negatif" saat itu juga hati gueh tenang, yes tenang banget sampai gueh bisa berdoa dengan khusyu. Lanjutlah jalan sambil ngemut permen dari upay yang gak abis-abis kaya jalan setapak menuju pos 1. Lelah, kenapa jalur semeru gak indah ya? Padahal dari cerita yang didapat rakum itu indah? Mulai bete tapi nyoba hibur diri lagi. 

Berbincanglah sana sini.

"sri, semeru sri" 

Aku mulai mengingatkan sri, akhirnya kita bareng ke semeru tp feel yg tercipta itu datar banget. Padahal semeru itu mimpiku, mimpi sri, mimpi eca. Tapi beneran semua jadi biasa. Akhirnya yaudah aku ikuti aja alurnya. Terus jalan sampe pos2, pos3 dan sampailah kita dipinggiran ranu kumbolo yang katanya surga para pendaki hingga malam kita habisin dengan tidur.

Selamat pagi dunia. Dengan mood yang sama aku coba bangun feel pendakian yang biasa aku rasakan. Lanjut jalan ke Kalimati lewat tanjakan cinta dan mungkin alam buat aku jatuh cinta seketika mood pendakian kembali. Its amazing didepan mata ada sabana yang luas banget walau kering tapi tetep indah. Mencoba menyendiri, misah dari rombongan. Aku jalan dihamparan verbena yang kering. Liat keatas, ke kiri ke kanan. Takjub beneran. Rasanya pengen ke puncak juga terus sujud deh. Tapi aku harus inget just sampai kalimati ra.

Sampai ujung verbena ketemu arif, om yo dan kang asep. Ngebanyol lah ama mereka dan istirahat di Cemoro kandang sambil nungguin yang lain. Kemudian lanjut jalan sampai kalimati.

Habisin hari dikalimati. Masak-masak sampai diskusiin mau ke puncak atau engga. Siapa sih yang gak mau ke puncak?? Akulah contohnya. Kalau sampai ke puncak yang pertama aku lakuin itu sujud sambil nyium tanah atap tertingginya jawa. Yes beneran deh mungkin air mata juga bakalan banjir. Tapi keinginan gak selamanya harus diikuti bukan?? Tahan-tahan lah. Aku meyakini diri bahwa ada waktunya aku akan melakukan itu.
Pagi hari bermain dikalimati sambil mandangin mahameru. Pagi itu kecewa pasti terutama terlihat di wajah nya upay. Upay duduk disekitaran ilalang sambil mandangin mahameru kalau diajak ngobrol mimik wajahnya itu terlihat jelas sedih sambil ngomong next kesana. Kasian banget sama si upay. Next upay dan kita semua segera kesana yah.

Lanjut turun dengan feel yang lebih senang. Kali ini aku bisa merasakan bahwa tujuan pendakian itu pulang dengan selamat. Dengan segala resah saat berangkat akhirnya aku bisa sampai rumah selamat tanpa ada penyesalan aku perna memilih untuk berangkat.

Minggu, 29 Oktober 2017

Medan: Ziarah sambil jalan-jalan

Halaman Mesjid Azizi

Selamat datang di kota medan.
Sampai di bandara internasional Kualanamu suasana jadi berubah.
Di medan udara panas dan saat itu sedang gerimis jadilah lembab yang menyebabkan ke kita nya lengket ((faham kan feel nya 😅))

Eh tapi jujur bangga banget indonesia punya bandara ini, bandaranya megah. Dan merupakan bandara terbesar kedua di Indonesia setelah bandara soeta. Asli coba rasain deh ke Bandara Kualanamu bahkan untuk fasilitas sudah berkelas dunia, semua aktivitas sudah terkomputerisasi katanya sih ngikutin malaysia dan singapura. Kurangnya itu pelayanan dan SDM nya masih harus ditingkatin. Secara keseluruhan mudah dan top lah fasilitasnya. Coba ke toiletnya. Sampai ada edukasi mengenai sampah pembalut dan tisu. Keluar dari pesawat langsung masuk gedung bandara dengan jalan yang bersih, sejuk dan wangi. Dari bandara kita bakal keluar tol. Luas jalanannya itu hampir sama kaya di soeta. Kalau liat dari depan beneran megah kaya diluar negeri gitu deh. Gak begitu ramai jadi terlihat rapih. Menurut pribadi ini bandara terbaik yang perna dikunjungi. Tol nya pun masih uji coba dan pengerjaan sekitar awal oktober baru diresmikan.

Next dari kualanamu nerusin perjalanan ke langkat. Aku diajak bapa untuk ziarah ke makam guru yang berpengaruh sekali pada keluarga ku. Ini kali kedua. Sebelumnya saat usia enam tahun aku perna ke langkat dan yang aku ingat aku perna tidur-tiduran di mesjid azizi. Mesjid sejarah yang berpengaruh pada penyebaran islam di Langkat.

Yups, daerah yang kami tuju adalah langkat. Langkat bukan daerah yang ingin aku tinggali karena suasana kota yang biasa saja 😁. Tentang penduduk disini, mayoritasnya orang-orang melayu, cina pun ada, mereka ramah dan baik hati seperti pemilik rumah sewa yang rumah nya kita sewa ini. Rumah-rumahnya menyerupai banguan zaman dulu. Dua lantai dibuat seperti rumah toko.

Waktu itu kami disambut oleh keluarga pak slamat. Sebuah keluarga yang perna di deportasi dari timor-timor. Waktu timor-timor merdeka melepaskan diri dari indonesia. Pak slamat baik begitu pun istri dan anak-anaknya. Anak-anaknya adalah salam dan marhaban. Mereka dilahirkan ditimor-timor tapi tak perna merindukan kampung halamannya. Kalaupun rindu gak akan mau balik ke kampung halamannya yang beda negara itu. Mereka berkulit hitam, salam yang humoris dan supel membuat dia dikenal seantero kampungnya 😂 seperti selayaknya anak flores (ntah lah dia itu disamain dengan anak flores gitu deh) yang ramah, baik dan nurut dia pun sepertu itu. Kalau marhaban pendiam dan datar tapi kedatarannya yang buat orang tertawa. Merekalah yang menjamu kami hingga acara selesai.

Selama dilangkat selain berziarah aku coba keliling-keliling melihat kehidupan masyarakatnya. Di Langkat tidak ada mall bahkan hotel pun tidak ada. Tempat wisata pun tidak ada mungkin itu yang menyebabkan langkat jarang dikunjungi wisatawan dan tidak di ekspose. Yang terkenal disini adalah Mesjid Azizi yang dipakai oleh masyarakat sekitar untuk melakukan aktivitas keislaman. Dulu nya mesjid ini salah satu tempat penyebaran islam di medan dan saat ini yang masih dipertahankan bahkan sudah berkembang dengan adanya yayasan dan lembaga pendidikan.

Setelah acara selesai bapak membawa kita kerumah adik nenek didaerah kota Medan. Perlu waktu sekitar empat jam untuk sampai kota Medan. Belum ada hal yang menarik dari kota Medan. Makanan khas pun tak ada. Aku bertanya kependuduk sekitar mengenai makanan khas disini, dari orang-orang yang ku tanyai tak satu pun ada yang tahu. Mereka menjawab yah hampir sama dengan padang, disini banyak penjual ayam penyet mungkin banyaknya melebihi di jawa. Kalau soal makanan Medan juaranya, maksudnya disini itu banyak sekali rumah makan, restoran, jajanan. Apa orang medan hobi makan yah? Tapi yang paling juara lagi adalah duriannya. Mereka bilang belum ke medan kalau belum makan durian Medan. Dan apes nya kita pas banget lagi gak musim durian bahkan ke tempat durian yang udah terkenal banget (*padahal aku sendiri baru tahu loh) yaitu durian ucok pun lagi gak ada durian. Jadilah kita belum lengkap ke Medan karena belum ngerasain durian super murah tapi rasa nya gak ada dua nya.

Malam hari aku ditemani dede dan putri keliling di pusat kota. Berkunjung ke Mesjid agung, ke istana maimun sampai makan malam di food court sebelah alun-alun medan. Food court disini khas. Biasanya food court kan adanya di mall yah kalau disini beda, adanya di pinggir jalan.

Keesokan harinya main ke berastagi. Mungkin kalau di Bogor mah kaya puncaklah yah. Tapi view menariknya adalah gunung sinabung yang lagi erupsi. Liat pemandangannya bikin betah dan gak nyesel ke berastagi.
Mudah-mudahan bisa balik lagi buat ngerasain durian ucok 😁 danau toba dan samosir yang jadi icon nya Medan.